4 TANDA KEBAHAGIAAN HATI MENURUT SYEKH IMAM NAWAWI AL BANTANI

Oleh : Gus Dr. Darul Abror, M.Pd.

Sekjen DPD Forpes OKI

Khutbah I

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ  أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT.

Alhamdulillah syukur,  sampai hari ini, hidung kita masih bisa bernafas, mata kita masih bisa melihat, lisan kita masih bisa berucap, lebih-lebih hati kita masih terpanggil untuk melaksanakan sholat jum’at, tentu, ini atas hidayah Allah SWT, untuk itu, sebagai muslim yang bijak, tidak ada alasan bagi kita, untuk selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, dengan berupaya semaksimal mungkin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT dengan penuh ketundukan yang amat tinggi di hadapan Allah SWT.

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT.

Zaman sekarang, melalui HP dan media sosial, tidak sedikit orang sangat mudah melihat kehidupan orang lain, yang kelihatan lebih kaya, lebih mewah, atau lebih sukses, mudah memamerkan kebaikan, sedekah, atau ibadahnya, sering kali terlalu cepat menilai dan mencari-cari kesalahan orang lain, sementara dosa diri sendiri yang menumpuk, justru dilupakan. Dalam hal ini, Syekh Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashoikhul Ibad, menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati seorang hamba dapat diukur dari empat tanda di dalam hatinya.

Tanda  pertama :

ذِكْرُ الذُّنُوْبِ الْمَاضِيَةِ

Artinya: “Mengingat Dosa-dosa yang lalu.

Orang yang bahagia, bukanlah orang yang merasa dirinya paling suci, melainkan orang yang selalu mengingat kesalahan, dosa, dan maksiat yang pernah ia perbuat di masa lalu. Ingatan akan dosa ini, melahirkan rasa takut kepada Allah SWT, mendorongnya untuk terus bertobat (istighfar), dan mencegahnya dari sifat sombong.

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).

“Ibarat seorang petani yang hendak turun ke sawah atau kebunnya. Petani yang bijak akan selalu ingat di mana letak paritnya yang jebol di masa lalu. Ia tidak akan membiarkan kebocoran itu, melainkan sibuk menambalnya agar airnya tidak terbuang sia-sia. Mengingat dosa itu ibarat memeriksa tanggul hati kita yang jebol. Jika kita ingat kesalahan masa lalu, kita akan rajin ‘menambalnya’ dengan istighfar dan amal saleh, sehingga pahala kita tidak bocor terbuang sia-sia.”

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT.

Tanda kedua :

وَنِسْيَانُ الْحَسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ

Artinya: “Dan melupakan kebaikan-kebaikan yang telah lalu.”

Tanda kebahagiaan yang kedua adalah tidak pernah mengungkit-ungkit, mengingat-ingat, atau membanggakan kebaikan yang pernah dilakukan. Orang yang selalu mengingat kebaikannya akan rawan terkena penyakit ‘ujub (bangga diri) dan riya’, yang akhirnya bisa menghapus pahala amalnya.

Dalil Hadis Sahih: Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam hadis sahih :

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Artinya: “Tiga hal yang membinasakan: sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa bangga seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Ath-Thabrani; disahihkan oleh Al-Albani)

“Ibarat kita menanam benih padi atau benih jagung di dalam tanah. Setelah benih itu kita masukkan ke dalam tanah dan kita sirami, kita tidak perlu menggali tanah itu setiap hari hanya untuk melihat dan memamerkan benih yang sudah kita tanam. Kalau digali terus, benih itu justru akan rusak dan mati.

Begitulah amal kebaikan kita. Begitu selesai bersedekah atau menolong orang, ‘tanam dan kubur’ kenangan amal itu rapat-rapat. Biarkan Allah yang menumbuhkannya menjadi pahala yang rimbun di akhirat kelak tanpa perlu kita ungkit-ungkit lagi.”

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT.

Tanda  ketiga :

وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ فَوْقَهُ فِي الدِّيْنِ

Artinya: “Melihat kepada orang yang berada di atasnya dalam urusan agama.”

Dalam hal ibadah, akhlak, dan ketakwaan, orang yang bahagia akan selalu melihat kepada orang yang ilmu dan ibadahnya lebih tinggi darinya. Sifat ini melahirkan rasa tidak cepat puas dalam beramal, memicu semangat (ghirah) untuk terus menambah hafalan, memperbaiki shalat, dan memperdalam ilmu agama.

Dalil Hadis Sahih: Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.” (HR. Tirmidzi, No. 2329)

“Kita ibaratkan dengan seorang petani yang melihat hasil panen tetangganya yang jauh lebih melimpah dan berkualitas. Petani yang cerdas tidak akan iri hati, tetapi ia akan bertanya dan belajar: ‘Pakai pupuk apa beliau? Bagaimana cara merawatnya agar panen saya bisa sebagus itu?’

Begitulah dalam urusan agama. Ketika melihat tetangga kita begitu rajin shalat berjamaah di masjid atau fasih membaca Al-Qur’an, jadikan itu pecutan semangat bagi kita untuk meniru kebaikannya, bukan malah nyinyir atau merasa cukup dengan ibadah kita yang masih bolong-bolong.”

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT.

Tanda 4:

وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ دُوْنَهُ فِي الدُّنْيَا

Artinya: “Melihat kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia.”

Untuk urusan harta, pangkat, rumah, dan kenikmatan duniawi, orang yang bahagia akan selalu memandang kepada orang yang nasibnya lebih kurang beruntung darinya. Cara pandang ini akan melahirkan rasa syukur yang mendalam (qana’ah), mencegah rasa iri dengki (hasad), serta menjauhkan diri dari sifat mengeluh.

Dalil Hadis Sahih: Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis sahih:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim, No. 2963)

“Ibarat kita sedang berjalan kaki atau naik sepeda tua di jalan desa. Jika mata kita terus menatap mobil mewah yang melintas, hati kita akan terasa sempit dan sesak didada. Namun, coba tengok ke pinggir jalan; lihatlah orang yang tidak memiliki kaki, atau orang yang harus memikul beban berat tanpa alas kaki. Seketika itu juga hati kita akan mengucap Alhamdulillah, bersyukur bahwa Allah masih memberikan kita kaki yang sehat dan sepeda untuk dikayuh. Mengarahkan mata ke bawah dalam urusan dunia adalah resep paling ampuh agar hidup terasa tenang dan penuh berkah.”

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT

Mudah-mudahan, Empat tanda kebahagiaan diatas menjadi kompas penuntun hidup kita, Mengingat dosa masa lalu, agar kita rajin bertobat, melupakan kebaikan masa lalu agar kita terhindar dari sifat sombong, memandang urusan agama orang lain ke atas, agar kita semangat beribadah, dan memandang urusan dunia ke bawah agar kita selalu bersyukur dan ditambah keberkahan dari Allah SWT. Aamin-aamin ya robbal alamin.

  

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

admin dpd
admin dpd
Articles: 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *